Bukit & Lembah

Hai, aku Fauzan. Seseorang yang sering kali menciptakan masalah di mana pun aku berada. Entah apa yang ada di pikiranku, aku tidak pernah berpikir panjang, yang penting cepat, walau tak selalu tepat. Ya, akulah Fauzan si "gurung gusuh" yang masih terus belajar untuk lebih tenang dan menemukan ritme dalam hidup. Kini, aku mencoba peruntungan di dunia kepenulisan dan menyusun karya tulis ilmiah untuk pengembangan diri.

Sudah berkali-kali kepalaku terasa mau meledak dan hancur berkeping-keping. Penyebabnya adalah diri sendiri yang tidak berpegang teguh pada apa yang telah diucapkan. Benar, aku bisa disebut munafik yang merasa bisa melakukan semua yang dikatakannya, padahal kenyataannya hanya sesaat. Janji-janji itu kini menjadi sekadar legenda.

Aku yang sejak dulu berkomitmen pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membuat rencana jangka panjang bagi orang-orang yang percaya padaku, ternyata kerap gagal dalam eksekusi rencana yang telah disusun matang. Sungguh disayangkan, aku berulang kali mengkhianati kepercayaan itu.

Namun, setelah pengulangan kejadian yang terus-menerus, yang bisa kulakkan hanyalah terus maju dan kembali bangkit. Tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu, berpikirlah sederhana, dan berpegang teguh pada pendirian demi tercapainya tujuan yang mulia. Ya, aku punya tujuan mulia yang wajib kuwujudkan.

Memang terkesan aku memaksakan diri, tapi harus bagaimana lagi? Kebiasaan buruk harus dipaksa hilang dari diriku ini yang belum sepenuhnya "selesai" dengan dirinya sendiri agar bisa melangkah lebih jauh.

Oleh karena itu, segala hal yang membuat kepalaku seperti mau meledak akan kutuangkan di blog ini.

Dimulai dari persoalan dalam menentukan gejala dan masalah. Aku memiliki masalah tidur dan sempat berpikir itu adalah gejala "Sosial Anxiety" karena merasa canggung saat bersosialisasi. Rasanya pembicaraanku kerap tidak jelas sehingga perlu memperbaiki retorika dan pemahaman. Ternyata setelah dikaji, gejala yang kusebutkan itu bukanlah akar masalah.

Masalah susah tidur yang kualami ternyata disebabkan oleh ketergantungan pada "Handphone". Kebiasaan menatap layar sebelum tidur telah merampas waktu istirahatku yang berkualitas. Padahal, di malam hari tubuh punya tugas penting yaitu meregenerasi energi dan metabolisme. Kini akibatnya kurasakan  dari tidur yang kacau berubah menjadi hari-hari yang sulit konsentrasi, kurang produktif, dan rasa canggung dalam berinteraksi.

Saat memakai "Handphone" aku selalu ingin mengutak-atik informasi, entah tentang kesehatan, ekonomi, politik, atau hiburan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk "mengatur ulang" hubunganku dengannya. Dengan tujuan yang jelas, semoga setelah menulis blog ini, aku dapat menggunakannya dengan bijak dan seperlunya.

Pemikiran terbuka dan tertutup
Entah apa yang membebani pikiran
Ku hanya melihat sebuah laut tanpa dasar,
Dasar pikiran yang mengacau.
Dengan arah dan tujuan yang tidak tertata.

Begitulah, nasihat untuk menggunakan "Handphone" sesuai kebutuhan. Namun, kini kumemilih jalan lain untuk mencapai tujuan mulia. Seharusnya tidak serumit dulu karena dahulu aku mengorbankan segalanya, bahkan harga diri, untuk tunduk pada mereka padahal, patuh pada orangtuaku saja jarang. Oleh karena itu, kini aku memfokuskan diri hanya pada "Bisnis dan Studi", dengan memegang teguh hal-hal yang kemampuannya dapat kukurasi sesuai keadaan saat ini.

Apalagi tak ada jejak untuk proses menata, Hanya angan-angan gila yang selalu berputar. Ingin bergerak tetapi kognisi mengatakan rehat, Karena wadah yang tidak mendukung, Dan tidak mendapat asupan yang seimbang. 

Ingat, niat awalku mendirikan bisnis adalah agar lebih fasih berucap dan berkomunikasi, terutama dalam situasi genting seperti acara kampus atau nanti saat bekerja. Alhamdulillah, sudah ada peningkatan. Selain itu, aku memutuskan untuk mulai membuat video dan berbicara pada diri sendiri melalui video, merekam atau menceritakan kegiatan harian yang telah dilewati.

Kembali membuka hati dan menapaki dunia. 
Obsesif untuk menampakkan kisah kita
Yang seharusnya sadar akan sekitar.
Mungkin luapan rasa dahulu yang pudar,
Seperti bayang diri yang menghilang.
Setelah terkena cahaya benderang. 

Alam semesta sedang memperdengarkan sebuah melodi yang kupeluk dengan penuh syukur. Kini aku tak lagi menjadi solois, melainkan bagian dari sebuah duet yang sedang berlatih menuju komposisi yang lebih agung. Kami sepakat untuk berlatih dalam tempo yang tidak terburu-buru, menghargai setiap jeda dan crescendo. Proses inilah yang menjadi partitur utama kami. Dan di sela-sela latihan yang kadang sumbang dan penuh dinamika problematik, selalu ada momen ketika semua nada berserakan menyatu dalam satu akor yang sempurna.

"Sebuah dekapan, Itu adalah titik rest dan keheningan yang paling fasih, di mana seluruh orkestra keresahan kami menjadi damai."

Mungkin selama ini diri mendera kasih
Yang baru saat ini kudapatkan kisah.
Kisah kasih seseorang yang begitu tulus.
Yang selama ini kubutuhkan hingga pupus,
Menemani proses dalam menapaki dunia,
Menyelaraskan ikhtiar dengan tujuan bersama.

Setelah beralih metode untuk mencapai tujuan bersama, penerapannya selalu menjadi masalah terkhusus bagiku. Ketidaksesuaian antara pemahaman dan praktik, serta jam terbang yang kurang, mengharuskan aku menguasainya dengan cepat. Intinya, aku kurang dalam eksekusi dan terlalu berkutat pada pemahaman mendalam. Inilah yang harus segera kuubah. Jika tidak, aku bisa menjadi gila, mungkin seperti pengunjung di pelayanan kesehatan yang terdiagnosis "Anxiety Disorder". Itu hanya kemungkinan. Namun, karena semua kecemasan dan pikiran telah kutuangkan di blog ini, kuharap semuanya akan baik-baik saja.

Tujuan mulia di ujung kata,
Dalam praktik, siksa terasa.
Di balik senyum dan tawa,
Terkubur hak, hati terluka.

Bila prinsip telah tergadaikan,
Kebenaran pun jadi permainan.
Bukan lagi jalan yang terang,
Hanya jejak kehancuran yang tertinggal.

"Kemuliaan tujuan harus sejalan dengan kemuliaan cara. Jika tidak, yang lahir bukanlah perubahan, tetapi siklus kehancuran baru."

Hubungan ini sudah hampir 10 bulan. Dua hari sebelum bulan kesepuluh, perasaan mengganjal memuncak. Memang, komunikasi dan kepercayaan adalah kunci kelanggengan hubungan. Lantas, jika komunikasi hanya satu arah, apakah ia masih layak disebut kunci? Walau tidak diblokir, jika tidak ada kabar dan hanya menyisakan centang satu (tick),  bukankah itu sama saja dengan memutus konektivitas?  

Pertanyaan-pertanyaan ganjil itulah yang memenuhi pikiranku. Biasanya, aku selalu memaklumi dan mengerti, mungkin dia butuh ruang atau waktu sendiri. Namun, kali ini aku mencoba hal lain: membalasnya. Terkesan mendendam, tetapi tujuanku hanya agar dia mengerti bahwa ditinggalkan tanpa kabar membuatku resah, walau sangat tidak nyaman bagiku harus melakukan ini.

Aku khawatir dia membuat keluarganya khawatir. Aku sangat takut terjadi sesuatu padanya jika dia terbiasa mematikan sinyal atau koneksi saat di perjalanan atau sedang tidak bersama. Kesannya aku terlalu posesif, walau memang begitulah adanya. Apalagi dinamika keluarganya yang sangat menyayanginya sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ditambah kekhawatiran lebih terhadap perempuan yang berpergian.

Sudah 3 bulan aku keluar dari perguruan yang munafik itu. Banyak hal terjadi sejak saat itu yang akan kujelaskan perlahan di sini.

Dalam hubungan kami yang hampir setahun ini, hampir saja aku menginjak ranjau dan merusak segalanya. Sebab, aku merasa ada probabilitas eksternal yang bisa menjadi penghalang, yang sebenernya hanyalah kekhawatiran tak berdasar. Aku sempat penasaran karena chat dan DM-ku tidak dibalas seperti hari itu.

Pesanku pukul 21.08 dan teleponku pukul 20.07 tidak diangkat, tetapi dia "terakhir dilihat" pukul 22.59. Pikiranku langsung kacau, apakah dia sudah malas atau muak berhubungan denganku? Kuharap ini hanya godaan was-was. Dan ternyata benar, dia tertidur. Sungguh hina, pikiranku yang mengada-ada. sebaiknya aku tidak perlu terlalu khawatir dan mengalir saja.

Kini, di awal 2026, hubungan kami sudah lebih dari setahun. Aku berniat serius membangun Personal Branding di tahun ini, dimulai dengan merapikan seluruh akun instagram dan menyusun berbagai produk yang bermanfaat bagi pembeli. 

"Rasa lama yang kembali, Membuat seseorang jatuh hati, Walau sudah sadar sosok itu sudah dimiliki, Oleh diriku yang lebih dahulu menyatakan hati."

Kali ini aku meresahkan sosok pengganggu eksternal yang sebetulnya dia sudah sadar hubunganku dengannya. tetapi tetap saja mendekati bahkan membicarakanku dibelakangku kepadanya. Sangat lucu ketika dirinya menceritakan semua yang terjadi kepadaku. Ketika disimak, amarahku memuncak hingga aku merasa harus melayangkan satu tendanganku ke arah kepala dan mata yang memandangnya.

"Sudah berkali-kali aku ke tempat yang kau baru pertama kali datangi. bahkan sebelum kita kenal dan berteman."

Kusadari dengan sepenuh hati jika dalam konteks hubungan. khususnya pacaran, masih bisa untuk probabilitas pisahnya tinggi. Bahkan ditikung, toh "namanya juga masih pacaran" hingga yang sudah menikah pun tidak menutup kemungkinan untuk bercerai dan nikah lagi dengan selingkuhannya. tapi Sorry to say, kami tidak sama seperti mereka yang berhubungan hanya untuk memenuhi keinginan, dan ada alasan kuat dibalik itu yang tidak bisa orang sepertimu ganggu gugat.

Setelah 3 bulan aku keluar, di bulan pertama aku mengikuti OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) Jurusan. dan PBL (Praktik Belajar Lapangan) di Fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan) tingkat pertama di bulan kedua. serta LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa) untuk memenuhi sertifikasi kelulusan di kampusku di bulan ketiga, berdekatan dengan selesainya PBL. Karena aku dua tahun belakangan sibuk mengurusi satu dan lain hal. Cukup penat tetapi pengalaman yang aku dapatkan sangat bermanfaat untuk jangka panjang, seperti saat manajemen waktu dan pengambilan keputusan yang harus dilakukan dengan tepat, Tentunya jika ada hal yang keliru aku harus tanggung jawab dan menerima konsekuensi tersebut.

"Pada akhirnya di setiap pilihan yang kita ambil akan ada konsekuensinya tersendiri. Semua yang ditakdirkan untukmu akan tetap milikmu, dan semua hal yang di takdirkan bukan untukmu, maka mau bagaimana pun kita berusaha takkan pernah menjadi milikmu."

Di akhir bulan Januari ini, pacarku cerita soal kejadian aneh pagi ini, dia menggigil setelah mendapati visual yang mengerikan pasca bangun tidur. yakni melihat sepotong kaki yang membeku di sebelah kaki dia. Enath apa visual ini menggambarkan perasaan seperti apa. yang jelas aku mau mencoba semua ini seperti apa adanya walaupun semalem kita habis konflik cukup berat. Bisa jadi karena hal itulah dia memiliki kondisi seperti itu. Aku berusaha untuk berdamai dengan semua dan masalah itu akan ku coba selesaikan secepatnya.

Di hari selasa tanggal 27 Januari 2026, ku termenung memikirkan proses penjualan Paw kitchen setelah kelas di sekitar kampus. Tidak terlalu ramai seperti biasanya kali ini masih menyisakan banyak. Tiap kali masih banyak aku memikirkan apakah aku terlalu sering terlambat datang untuk berjualan keliling? Ataukah memang sedang sepi saja dan aku anggap sebagai bagian dari proses bisnis. 

Saat aku menulis ini aku sedang mengamati langit dan mengemukakan kegelisahan soal timing dan momentum usaha bisnisku. Kurasa aku terlalu cepat untuk menyerah dan kurang ikhtiar. Atau mungkin aku perlu mengubah rencana bisnis, dengan terus menawarkan seperti biasanya. Hm sebuah cobaan yang cukup menantang. 

Sekarang aku sudah di bulan April, setelah melalui dinamika bisnis yang semakin turun daya belinya aku memutuskan untuk libur panjang di pertengahan bulan puasa, karena setelah riset, berbagai faktor yang mempengaruhi seperti harga pangan dan situasi geopolitik di timur tengah yang memanas. Sehingga beberapa orang yang kutawarkan menahan diri untuk membeli, walaupun ada saja syukurnya yang suka memborong dan sudah jelas hal itu tidak setiap hari.

Alasan lain aku berhenti berjualan di pertengahan bulan puasa tahun ini, karena penjualan di kampus lebih tinggi dari pada saat aku di tempat umum, seperti taman dan track lari di pertengahan kota Bandung. Terutama pada bulan puasa, dimana waktu yang bisa aku spend harus adaptasi karena jualannya tidak pagi, melainkan sore menjelang maghrib. Melihat pasar juga yang semakin maraknya orang berjualan, akupun harus lebih aktif dan lebih semangat, "jangan mau kalah semangatnya sama yang lain"

Selain itu aku pun merasa perlu adanya maintenance atau evaluasi produk serta pemasaran apalagi dari Poster dan wadah yang biasa kugunakan untuk berdagang. Diperlukan adanya beberapa penyesuaian dan sampai saat ini aku baru selesai di rebrand logo dan pembuatan ulang poster, apalagi sekarang sudah dapat sertifikasi halal. Masalah pola tidur yang pernah disinggung di awal kali ini semakin memburuk, pada malam sebelum aku menulis ini aku mendapati susah tidur, sehingga akhirnya aku dapat tertidur pula di pukul 3 dini hari. 

Dan momen aku kesiangan untuk kelas pagi (online) pun tidak sempat kuikuti, padahal dari dalam lubuk hati mata kuliah itu aku tunggu-tunggu dari semalam, tetapi ya apa boleh buat, aku harus lebih baik lagi sesuai dengan mottoku di awal.

Menjadi lebih baik lagi dari hari-hari sebelumnya.

Sudah yang ke empat kali aku menservis hape, periode pertama di akhir 2024 di official center langsung (ori), kedua sampai ke empat di unofficial center. Setelah dipikir kembali, ada baiknya aku membeli hape baru ketimbang servis berkali-kali. Semua masalah servis akhirnya selalu pada LCD yang aslinya bukan itu faktor penyebabnya. jika LCD sekali dua kali servis harusnya masih bisa digunakan dengan aman, akupun memperkirakan itu semua ada pada komponen lain masalahnya.

Dari komponen tersebut merembet ke LCD, itu yang menurutku paling logis, walau aku tidak belajar mengenai ilmu mekanika dan sistem perangkat lunak didalamnya. tetapi jika dilihat dari sirkuit itu kurasa harusnya begitu. walaupun ini akan menjadi kajian yang lebih dalam dan banyak ku elaborasi. Dan dimalam ku mengetik, akupun sulit tidur dikarenakan ovt mengenai posisi dan progress kedepan yang kurang signifikan membaik.

Tapi aku yakin satu hal, selama kita mau usaha dan terus berusaha, tentu dengan memperhitungkan faktor dan variabel lain dalam usaha kita, pasti akan ada hasil yang signifikan baik. Semenjak aku mendapati masalah saat ini, walau sepele karena hape tapi ku merasa hampa karena kelalaianku sendiri terkait amanah menjaga hape pemberian kakak iparku itu.

Berlarut dalam masalah itu percuma. Seperti menangisi batu yang membuatmu tersandung, bukannya dihalau, hanya diratapi.

.

To be continue..

.

Minggu, 04/12/26 

Comments

  1. Klo perguruan itu munafik, Hapus postingan sertifikat Wushunya donk.

    ReplyDelete
  2. Dan yang Munafik itu sebenarnya siapa ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerpen Sekolah

Kognisi